Kepiawaiannya dalam berkomunikasi dua arah membuatnya layaknya seorang “diplomat kemanusiaan”. Ia memahami bahwa sinergi dengan pengawas publik bukanlah sebuah ancaman, melainkan instrumen penting untuk menjaga marwah institusi dan melakukan perbaikan berkelanjutan.
Penulis : Dippo
Senin 27 April 2026
BAGANSIAPIAPI–(suararokannewss.com) “Di balik keriuhan narasi dan dinamika yang kerap menerpa institusi pemasyarakatan, seringkali terselip kisah-kisah kepemimpinan yang inspiratif.
Lenbaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bagansiapiapi, sosok Kepala Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP), Sigit Pramono, muncul sebagai sebuah anomali positif—seorang pemimpin pengamanan yang berhasil memadukan ketegasan dengan pendekatan humanis yang menyentuh hati.

Kepala KPLP lapas kelas IIA Bagansiapiapi (fata istimewa)
Sigit Pramono bukanlah tipikal pejabat yang berlindung di balik meja kerja. Di tengah badai isu miring yang mencoba mendegradasi integritas institusi, beliau justru memilih jalan komunikasi terbuka.
Tak sedikit yang tau, bahwa Ia dikenal sebagai sosok yang selalu menyapa rekan Media, LSM, dan Ormas dengan aura positif, menjadikan ruang pengamanan tidak lagi terasa kaku dan mengintimidasi.
Kepiawaiannya dalam berkomunikasi dua arah membuatnya layaknya seorang “diplomat kemanusiaan”. Ia memahami bahwa sinergi dengan pengawas publik bukanlah sebuah ancaman, melainkan instrumen penting untuk menjaga marwah institusi dan melakukan perbaikan berkelanjutan.
Retorika tentang integritas seringkali mudah diucapkan, namun sulit dipraktikkan. Sigit membuktikan keteguhan prinsipnya melalui sebuah preseden yang jarang terjadi.
“Kita manusia ini, tidak semuanya orang suka dengan kita. Pasti ada yang tidak suka. Namun saya tidak pernah menaruh dendam kepada mereka,” ucapnya dalam sebuah kesempatan dialog.
Kalimat tersebut mencerminkan filosofi seorang pemimpin yang telah “selesai dengan egonya”. Sebuah kesalahpahaman komunikasi di masa lalu yang sempat melahirkan narasi liar, dijawabnya dengan kedewasaan luar biasa.
Tanpa ragu, ia merangkul pihak yang berseberangan, menunjukkan bahwa kekuatannya tidak terletak pada kekerasan, melainkan pada kerendahan hati yang luas.
Meskipun diterpa badan dan ditengarai ingin, Sigit tetap berdiri tegak layaknya pilar yang tak tergoyahkan. Keteguhannya untuk tetap berada di jalurnya, dengan pendekatan disiplin yang humanis, justru melahirkan dukungan moral yang masif dari luar.
Kerendahan hatinya telah bertransformasi menjadi benteng perlindungan alami buat warga binaan.
Para pegiat kontrol sosial menaruh hormat pada sosok pemimpin yang tidak antikritik dan selalu mengedepankan sisi kemanusiaan.
Pada akhirnya, Sigit Pramono memberikan pelajaran berharga : bahwa ketegasan tidak harus bersuara keras, pilar yang paling kokoh adalah pilar yang dibangun di atas fondasi kerendahan hati dan integritas yang tulus**












