Masyarakat kini sudah mencapai titik “Kiamat Pencitraan”, di mana publik lebih menghargai rekam jejak, transparansi, dan karya nyata daripada sekadar narasi manis yang dipoles.
“Semua masalah lama yang sudah ada sejak masih Rutan hingga menjadi Lapas Kelas IIA, ketika kebutuhan difasilitasi dan penyediaan kebebasan WBP menemukan nilai nominalnya.
Tak perlu kaget, kecuali pura-pura, tetapi juga tak perlu mengkeret atau kendur. Bapak kementeri Hukum dan HAM beserta jajarannya tak perlu kebakaran jenggot karena memang tak berjenggot.
Lebih penting menindaklanjuti, mengurai asal-usul pelanggaran, dan menindaki dengan tegas, jangan lemas di tengah jalan, juga jangan terlalu keras.
Menindaklanjuti dalam artian terus dilaksanakan itu hanya formalitas. Sebab, bukan baru kali ini saja petugas lapas bagansiapiapi mengurusi penjara dan biasanya berhenti di tengah jalan.
Juga jangan lemas kalau seolah ini kesalahan dari pimpinan lapas yang baru, program 100 hari karja yg dijanjikan, pabila ada kegagalan itu sudah biasa, karena kehidupan dan tradisi penjara sudah berlangsung selama 100 tahun.
Jangan terlalu keras, dalam artian tak semuanya bisa dipilah hitam-putih. Asal tak sesuai peraturan SIKAT.
Seingat saya, yang sebenarnya pendek, penertiban yang keras hanya akan menimbulkan perlawanan, baik dengan diam-diam, atau program tidak jalan. Dalam bahasa sederhana, setelah ada perubahan prasarana dan sarana ke arah yang lebih baik, baru bisa dikatakan CIAMIK, masih ada yang nekat, baru disikat.
Kalau yang lama, sudah terjadi, tak perlu terlalu diusut-usut. Ujung-ujungnya malah jadi kusut dan semua wajah yang berurusan dengan ini akan cemberut.
Tindakan petugas pengamanan melakukan razia gabungan bersama TNI dan Polri, sebuah PENCITRAAN memengaruhi persepsi masyarakat, guna menonjolkan sisi terbaik melalui media online.
Adeeh..??
Masyarakat kini sudah mencapai titik “Kiamat Pencitraan”, di mana publik lebih menghargai rekam jejak daripada pencitraan.
Sebab..? Bola panas yang dilemparkan pihak media online membuat Asam Lambung kalapas kambuh, Razia habis-habisan menggeledah menegakkan integritas melalui Zero Halinar Handphone atau senjata harga mati.
Cara ini baik juga dilakukan, kami tidah heran pihak lapas melakukan razia, karna setelah razia beberapa jam berikutnya masih diketemukan barang jenis Handphone dan Rekap Togel yang dilarang semacam ini, karna sebelum razia barang ini sudah duluan diamankan.
“Sepandai-pandai sipir—apalagi kalau tidak pandai—para napi yang residivis sudah mempunyai pola.”
Mereka tahu pendahulunya menyimpan apa di balik batu apa, atau lantai mana untuk menyembunyikan papa, kebiasaan ini sudah mekanis sifatnya atau bahkan terjadi sistemisasi di dunia ”warga binaan” di negeri ini.
